Ternyata Akhirat ‘Masih’ Tidak Kekal (7): KETIKA ALAM SEMESTA DIGULUNG KEMBALI

Alam Semesta sekarang ini sedang mengembang. Semua ahli Astronomi dan Kosmologi sepakat. Karena faktanya memang bisa langsung diamati di angkasa, dimana benda-benda langit terutama galaksi sedang bergerak saling menjauh. Dimensi ruang alam semesta sedang membesar terus menerus, dan dimensi waktunya pun semakin menua.

Menariknya, tanpa bermaksud mengklaim, ternyata Al Qur’an ‘berpendapat’ sama. Bahwa langit memang sedang ‘meninggi’ ke segala arah. Atau, di ayat lain disebut sebagai ‘meluas’ ke segala penjuru. Bayangkanlah planet Bumi yang bundar dengan miliaran penduduk berada di permukaan-nya. Jika langit orang Indonesia meninggi ke atasnya, dan langit orang-orang yang berada di benua Amerika, Eropa, Afrika, dan Australia juga meninggi ke atasnya, berarti langit yang meliputi planet Bumi ini kan sedang meninggi ke segala arah. Astronomi dan Kosmologi menyebutnya sebagai Expanding Universe.

QS. Al Ghaasyiyah (88): 18

Dan (apakah mereka tidak memperhatikan) langit, bagaimana ia ditinggikan (ke segala penjuru)?

QS. Adz Dzaariyat (51): 47

Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.

Apakah dampak dari pengembangan langit itu? Ruang alam semesta semakin luas, jarak antar benda semakin renggang, dan waktu terus bertambah tua. Dampak berikutnya, kualitas benda-benda di seluruh penjuru langit semakin menurun. Mulai dari kerapatannya, suhunya, tekanannya, dan keteraturannya. Semakin besar mengembangnnya, semakin turun suhu dan tekanannya, dan ‘semakin tidak teratur’ kondisinya. Itulah yang disebut sebagai ‘kekacauan’ yang bertambah dari waktu ke waktu. Dalam istilah Fisika disebut dengan istilah Entropi yang meningkat.

Karena entropi yang terus bertambah itulah maka seluruh benda dan peristiwa di alam semesta menuju kepada kualitas yang semakin buruk. Benda-benda yang tadinya tertata menjadi semakin kacau. Yang tadinya bagus menjadi memburuk. Yang tadinya indah menjadi jelek. Yang tadinya segar menjadi busuk. Yang tadinya hidup menjadi mati..!

Alam semesta yang mengembang ini sudah berusia lebih dari 13 miliar tahun. Dan memiliki 3 kemungkinan di masa depannya. Kemungkinan pertama: alam semesta akan terus mengembang abadi, sampai suhu, tekanan dan tingkat kekacauan tak berhingga. Ujung-ujungnya alam semesta mati membeku karena suhunya mencapai nol mutlak. Hal ini akan terjadi jika, gaya gravitasi di pusat alam semesta kalah besar oleh kekuatan anti-gravitasi yang membuatnya mengembang tidak terkendali, sejak lebih dari 13 miliar tahun yang lalu.

Kemungkinan kedua, pengembangan alam semesta bakal berhenti di suatu jarak tertentu. Alam semesta bakal berhenti berdinamika. Ruangan menjadi statis, waktu statis, dan berbagai peristiwa ikut berhenti. Alam semesta pun mati. Hal ini akan terjadi, jika gaya gravitasi pusat alam semesta sama besar dengan gaya anti-gravitasi yang melontarkan segala isi jagat raya ini.

Kemungkinan yang ketiga, alam semesta akan berhenti mengembang di jarak tertentu, dan kemudian mengerut kembali. Ini bakal terjadi jika gaya gravitasi di pusat alam semesta lebih besar dari gaya ledakan alias anti-gravitasinya. Ketika mengerut itu, hukum alam akan berjalan terbalik. Yang tadinya rusak berangsur-angsur akan membaik. Yang tadinya mati, akan hidup kembali.

Menariknya, kemungkinan mana pun yang bakal terjadi di masa depan alam semesta itu, semuanya berakibat pada kematian jagat raya. Alias kiamat besar. Pilihannya, kalau nggak ‘mati membeku’, ‘mati tak bergerak’ atau ‘mati runtuh’ ke tempat semula. Ini mirip dengan kematian Bumi (kiamat sughra) yang sudah saya ceritakan di note ke-2: Apa pun yang Terjadi, Bumi Pasti Mati. Nah, kini giliran alam semesta, apa pun yang terjadi alam semesta bakal mati. Yaah, semua itu memang sebuah keniscayaan, karena Bumi maupun alam semesta adalah makhluk. Persis seperti dikemukakan Allah berikut ini.

QS. Al Qashash (28): 88

Janganlah kamu sembah bersama Allah, tuhan apa pun yang lain. Tidak ada Tuhan selain Dia. Segala sesuatu bakal binasa (termasuk 7 lapis langit dimana dunia dan akhirat berada), kecuali Allah (saja). Bagi-Nyalah segala ketentuan. Dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan

Lantas, dari 3 kemungkinan itu, manakah yang bekal terjadi? Secara empiris dan saintifik semuanya masih belum bisa disimpulkan, karena proses identifikasi variabel-variabelnya masih berlangsung. Kuncinya ada pada diketemukannya massa kritis alam semesta. Jika, massa alam semesta terbukti sedemikian rupa sehingga bisa menghasilkan gaya gravitasi yang melebihi anti-gravitasinya, maka alam semesta dipastikan akan mengerut kembali. Untuk kemudian hancur, runtuh di pusatnya.

Sebaliknya, jika nantinya terbukti massa kritis alam semesta tidak tercapai atau seimbang dengan gaya anti-gravitasinya, maka alam semesta bakal mengembang terus sampai lenyap atau setidak-tidaknya berhenti di jarak tertentu. Mana yang bakal terjadi, belum ada yang bisa memprediksi secara saintifik. Perdebatan masih terus terjadi. Khususnya antara yang pro alam semesta terus mengembang dan yang pro alam semesta bakal mengerut.

Saya termasuk yang pro alam semesta bakal mengerut. Dan meyakini bahwa massa kritis alam semesta berjumlah lebih besar dari gaya anti-gravitasinya. Seorang kawan lantas bertanya: tapi, bukankah sejumlah penemuan terbaru menunjukkan bahwa kecepatan mengembang alam semesta ternyata semakin besar di jarak yang semakin jauh dari Bumi? Tidak bertambah lambat, tetapi malah mencepat. Apakah hal ini tidak berarti alam semesta cenderung untuk bergerak tak terkendali, dan akhirnya bakal lenyap di kejauhan sana?

Saya tidak akan membahas detil masalah ini disini, karena halaman yang tersedia tidak cukup untuk menjelaskannya. Jika ada yang berminat tentang hal ini bisa membacanya di buku serial ke-34: MENGARUNGI ‘ARSY ALLAH. Saya telah membahasnya disana. Bahwa, kecepatan galaksi yang semakin jauh semakin cepat itu sebenarnya adalah semacam ‘tipuan penglihatan’ saja, disebabkan oleh posisi pengamat. Mirip seperti kasus seorang penumpang kereta api yang berjalan di atas gerbong yang sedang melaju. Menurut pengamat di stasiun, kecepatan penumpang itu menjadi bertambah cepat karena ditambah dengan kecepatan kereta api yang ditumpanginya.

Kenapa saya pro alam semesta yang mengerut? Apakah saya sudah bisa membuktikannya? Tentu saja belum. Tetapi, saya terinspirasi dari informasi Al Qur’an yang hebat ini. Bahwa, menurut kitab suci ini alam semesta tidak akan mengembang tak terkendali sampai lenyap. Allah menahannya, dan kemudian menggulung kembali ke pusatnya.

Dengan kata lain, Allah memberikan informasi bahwa massa kritis alam semesta ini sebenarnya cukup besar untuk mengalahkan gaya anti-gravitasinya. Yakni, tersembunyi di dalam apa yang disebut sebagai ‘materi gelap’ dan ‘energi gelap’ yang sedang ramai jadi perbincangan. Dan ini kelak akan menjadi salah satu bukti yang menguatkan adanya alam berdimensi tinggi.

QS. Faathir (35): 41

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap (dikarenakan terus mengembang); dan sungguh jika keduanya lenyap tidak akan ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

QS. Al Anbiyaa’ (21): 104

Pada hari Kami gulung langit (alam semesta) sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan di awal mula begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.

Nah, saat alam semesta bergerak membalik arah itulah fase alam akhirat terjadi. Ibarat merekam gelas di atas meja yang jatuh, pecah berhamburan, kini putarlah hasil rekaman itu secara terbalik. Maka, akan terlihatlah pecahan gelas yang berhamburan di lantai itu serentak berkumpul dan naik ke atas meja, utuh kembali. Begitulah efek dari terjadilah alam yang mengerut di fase akhirat.

Lantas, ada yang bertanya, kalau begitu apakah kehidupan di alam akhirat itu akan berjalan mundur? Apakah seseorang yang tadinya mati lantas menjadi hidup kembali, menjadi semakin muda, remaja, kanak-kanak, bayi, masuk ke dalam rahim, jadi embrio, dan akhirnya menjadi sperma dan ovum kembali?

Tentu saja tidak begitu. Karena, meskipun dimensi ruangnya mengerut, dimensi waktu tidak harus berjalan mundur. Usia alam semesta tidak ‘memuda’, melainkan tetap ‘menua’. Seandainya fase mengerut itu terjadi pada usia alam semesta 15 miliar tahun, maka usianya tidak lantas ikut mundur menjadi 14, 13, 12, 11, 10….., 3, 2, 1, 0. Melainkan tetap saja bertambah tua menjadi, 16, 17, 18, 19, 20 …., 27, 28, 29, 30 miliar tahun. Sejarah tidak berjalan berbalik arah, melainkan tetap melaju ke depan, membentuk peristiwa-peristiwa yang berbeda dengan alam dunia..!

Karena, yang mengerut memang hanya dimensi ruangnya saja. Kalau digambar dalam kurva tiga dimensi berbentuk globe, penjelasannya menjadi seperti berikut ini. Bayangkanlah ‘Awal’ alam semesta terjadi di kutub utara. Itulah saat terjadinya big bang. Lantas, ruangan mengembang sampai maksimum di ‘katulistiwa’ seiring dimensi waktu yang bergerak sepanjang garis bujurnya. Setelah itu alam semesta mengecil lagi menuju ‘kutub selatan’. Perhatikanlah, waktu tidak bergerak mundur ke arah kutub utara lagi, melainkan terus bergerak ke arah kutub selatan. Disanalah alam semesta runtuh, mengalami kiamat kubra – big crunch.

Durasi mengerutnya alam semesta akan berlangsung setara dengan durasi mengembangnya. Jika durasi mengembangnya 15 miliar tahun misalnya, maka durasi mengerutnya pun sekitar 15 miliar tahun. Mirip dengan batu yang dilemparkan ke udara selama 1 menit, maka waktu jatuhnya pun akan berlangsung 1 menit pula. Dengan kata lain, fase akhirat itu bakal berjalan selama miliaran tahun, dengan hukum yang berjalan terbalik. Inilah yang oleh Al Qur’an disebut sebagai masa yang lama, sehingga dipersepsi ‘kekal’ oleh sebagian penafsir. Tentu saja kalau dibandingkan dengan usia manusia yang hanya puluhan tahun… :)

Efek dari mengerutnya alam semesta itu adalah entropi yang berbalik menjadi menurun. Sehingga, diantaranya, orang yang tadinya mati – badannya hancur karena dikubur, dikremasi ataupun kecelakaan – akan  menjadi hidup kembali seperti gelas pecah yang tadinya berantakan di lantai menjadi utuh kembali di atas meja.

Bukan hanya bersifat fisikal, badannya saja, melainkan Allah bakal mengembalikan ruh sebagai ‘daya hidup’ makhluk bernama manusia. Karena sebagaimana saya jelaskan di note sebelumnya, bahwa daya hidup memang tidak serta merta inheren di dalam benda mati. Kehidupan hanya bisa dijelaskan asal-usulnya ketika kita melibatkan Allah sebagai sumber kehidupan makhluk-makhluk-Nya. Oh, betapa mudahnya semua itu bagi Allah..!

QS. At Taghaabun (64): 7-8

Orang-orang yang ingkar mengira bahwa mereka tidak mungkin dibangkitkan (di alam akhirat). Katakanlah: “Bukan begitu, demi Tuhanku kalian benar-benar akan dibangkitkan. Kemudian, akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu sangatlah mudah bagi Allah. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Wallahu a’lam bishshawab

~ salam ~

About these ads

3 thoughts on “Ternyata Akhirat ‘Masih’ Tidak Kekal (7): KETIKA ALAM SEMESTA DIGULUNG KEMBALI

  1. sudut pandang yg cerdas darimu brow,,
    meski smuanya masih wallahu a’lam, tapi kau sudah sedikit membuka tabir dengan setetes ilmu yg telah dikaruniakanNya padamu…
    keep posting broo :)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s