Ekspedisi Sungai Nil : Masjid Berdamping dengan Gereja dan Sinagog

Ada sebuah kawasan yang menjadi saksi bisu atas masuknya Islam ke negeri Mesir. Kawasan itu adalah Kairo Lama, dimana kota Fustat dulu berdiri sebagai pusat pemerintahan Provinsi Mesir. Gubernurnya adalah Amru bin Ash, yang langsung ditunjuk oleh khalifah Umar bin Khathab yang berkedudukan di Madinah, seusai menundukkan kekuasaan Romawi disini.

Memasuki kawasan ini, kita  memang sudah tidak bisa merasakan lagi kemegahannya. Khususnya, jika dibandingkan dengan kawasan Kairo Modern yang penuh gedung bertingkat. Tetapi, sungguh sangat menarik jika kita melakukan penelusuran lebih jauh. Terutama, kalau kita memasuki lorong-lorong bawah tanah yang menjadi bagian kawasan asli waktu itu. Disanalah saya menemukan gereja Kristen dan Sinagog Yahudi yang sampai sekarang masih aktif digunakan. Kedua tempat ibadah ini berada tidak jauh dari masjid besar Amru bin Ash yang menjadi pusat kegiatan kekuasaan.

Beberapa kali saya sempat shalat di masjid tua yang sudah berusia sekitar 1500 tahun ini. Termasuk shalat tarwih, dua hari yang lalu. Imam shalatnya menyenangkan. Bacaan Qur’annya sangat bagus, suaranya merdu dan berwibawa. Shalat disini terasa mantap dan khusyu’, meskipun surat yang dibaca panjang-panjang.

Setiap shalat – 2 rakaat, 1 salam – rata-rata  memakan waktu 15 menit. Maka, bagi yang menjalankan tarwih sebanyak 8 rakaat, shalatnya selesai dalam waktu 1 jam. Dan bagi yang menjalankan 20 rakaat, shalatnya selesai dalam waktu 2,5 jam. Menjelang musim dingin begini, waktu di Mesir digeser satu jam. Shalat Isya’ yang biasanya jam 21.30, kini menjadi jam 20.30. Maka, shalat tarwih sudah selesai sekitar jam 23.30 termasuk witir dan jeda di sela-sela shalat. Namun, ada yang masih melanjutkan dengan shalat tasbih, dan shalat tahajud, sepanjang malam.

Yang menarik, karena surat yang dibaca imam cukup panjang, banyak diantara makmum yang menyimak sambil membaca kitab al Qur’an. Jadi, dalam keadaan berdiri shalat, mereka membuka-buka kitab Qur’an. Yang demikian ini di Indonesia jarang ditemukan. Tetapi, di Mesir dan negara-negara Arab adalah biasa. Ada pula, yang sambil shalat membaca al Qur’an digital di dalam handphone-nya. Sehingga bagi yang tidak mengerti, mengira dia shalat sambil SMS-an.

Amru bin Ash adalah panglima perang yang tangguh, sekaligus politisi ulung. Dia yang masuk Islam menjelang ditaklukkannya kota Mekah, menjadi ujung tombak syiar Islam yang hebat di zaman Khulafaurrasyidin. Dia menjadi salah satu kekuatan inti sejak zaman Khalifah Abu Bakar. Prestasi terbesarnya adalah di zaman Umar bin Khathab, ketika ia bisa menundukkan kekuasaan Romawi yang waktu itu menjadi salah satu negara Super Power dunia bersama kerajaan Persia.

Pasukannya yang hanya berjumlah 4000 orang berhasil mengalahkan pasukan garis depan Romawi yang berada di kawasan sekitar Gaza sekarang. Dan setelah memperoleh bantuan pasukan sebesar 5000 orang di bawah pimpinan Zubair, Amru bin Ash menyerang jantung pertahanan penguasa Romawi di benteng Babylon, Kairo. Dalam waktu sekitar 7 bulan, kekuasaan Romawi yang dikawal pasukan berjumlah dua kali lipat itu pun runtuh.

Amru bin Ash membangun masjid di dekat kawasan benteng Romawi itu. Dan ia menamai kawasan ini sebagai kota al Fustat, yang menjadi pusat pemerintahan Islam pertama di Mesir. Di tahun 642 M itulah ia mulai membangun Mesir sebagai sebuah provinsi yang besar, dan menyiarkan agama Islam dengan damai kepada masyarakat Mesir yang sebelumnya dijajah oleh bangsa Romawi. Ia pun memindahkan ibukota Mesir dari Alexandria ke Fustat, yang 3 abad kemudian menjadi kota Kairo.

Di dekat masjid Amru bin Ash, ada beberapa gereja Kristen dan Sinagog milik orang Yahudi. Amru bin Ash tidak mengutak-atiknya. Ia memberikan keleluasaan beribadah kepada masing-masing penganut agama Samawi itu. Di antaranya adalah gereja St Sergius yang didirikan pada abad ke-3 M. Gereja ini dibangun di sebuah gua yang dulu pernah dijadikan tempat singgah Nabi Isa dan Bunda Maryam, dalam pelariannya ke Mesir saat dikejar-kejar oleh raja Herodes, penguasa Romawi di Palestina.

Bahkan, di bekas benteng Romawi pun kemudian didirikan gereja Babylon yang menjadi pusat perkembangan Kristen Koptik di Mesir. Gereja gantung tersebut dibangun di bagian atas tembok-tembok benteng, pada abad ke 7 M. Saya sempat masuk ke dalamnya dan menikmat desain bangunannya. Arsitekturalnya perpaduan antara Romawi dan Arab. Banyak tulisan-tulisan kaligrafi di dinding maupun di atas pintu-pintunya.

Menelusuri lorong-lorong bawah tanah di kawasan Kairo lama, kami juga menemukan sebuah Sinagog, yakni tempat peribadatan umat Yahudi. Sayang, ketika kami sampai di depan sinagog itu, pintu gerbangnya baru saja ditutup. Pada hari biasa, sinagog bisa dikunjungi oleh masyarakat sampai jam 4 sore. Tetapi karena bulan Ramadan, jam kunjungnya menjadi sampai jam 3 saja.

Sinagog ini dibangun pada abad ke 9, dan kemudian direnovasi oleh seorang Rabbi Yahudi dari Yerusalem pada abad 12. Tempat peribadatan tersebut kemudian dinamai Ben Ezra Synagogue, sesuai dengan nama sang Rabbi. Amru bin Ash memelihara semua itu sebagai bagian dari wilayah yang dipimpinnya.

Hidup berdampingan dalam tatanan yang saling hormat menghormati dalam kedamaian. Saling tolong menolong dan melindungi kepentingan bersama dari ancaman luar yang menghancurkan. Sahabat Rasul ini tahu persis bahwa Islam memberikan kebebasan dalam beragama. Apalagi, ketiga agama samawi ini adalah agama yang dibawa oleh keluarga Nabi Ibrahim alaihissalam…

* * *

Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau mendirikan sebuah cikal bakal negara disana. Selain mendirikan masjid sebagai pusat dakwah dan perekat umat Islam, Sang Nabi membuat perjanjian dengan masyarakat setempat yang sudah mapan duluan. Perjanjian itu, lantas dikenal sebagai piagam Madinah.

Salah satu isi piagam Madinah adalah memberikan jaminan keamanan bagi seluruh warga yang berbeda suku dan agama, untuk menjalankan segala tradisi kebiasaannya. Termasuk kebebasan untuk menjalankan agama masing-masing, selama mereka ingin hidup berdampingan secara damai dalam negara yang sama. Konsep piagam Madinah inilah yang kemudian menjadi tonggak sejarah bagi berdirinya negara-negara Modern dalam semangat pluralitas yang saling menghormati.

’’Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau (setidak-tidaknya) balaslah (serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. [QS. 4: 86] ’’Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku“. [QS. 109: 6]

Bersambung besok: Benteng Megah yang Tak Pernah Dipakai Perang

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s